Senin, 22 Februari 2021

Arkeologi Alternatif sebagai Alternatif Beropini dalam Arkeologi

    Saat tinggal di suatu pedesaan antara Gunung Gede dan Gunung Salak yang masih asri. Menikmati dinginnya udara khas pegunungan yang semilir menerpa wajah, kami berkumpul di saung setelah lelah berlatih salah satu silat tradisional. Nikmatnya singkong goreng yang masih basah oleh minyak panas, ditaburi penyedap rasa untuk menambah kelezatannya dan teh panas untuk mengalahkan hawa pegunungan yang menusuk. Perlahan-lahan kuhirup teh yang masih berasap, rasanya seperti ada bara api di lidah, menggoyahkan kerongkongan yang sedari tadi menunggu air mengalir.

    Sembari asyik menikmati cemilan, Uwak Buyut yang sedari tadi asyik berbicara, mulai bercerita mengenai batu-batu yang berada di kaki Gunung Salak yang dia kunjungi beberapa waktu silam. Batu-batu tersebut konon merupakan peninggalan Kerajaan Salakanagara. Mendengar hal tersebut, saya tertarik mendengar penuturan Uwak mengenai kerajaan Salakanagara lebih lanjut. Teman-teman disekitar juga ikut merapat mendengarkan. Kisahnya terus berlanjut sampai Uwak mengisahkan Salakanagara adalah kerajaan tertua yang ada di Nusantara. Konon, Kerajaan Salakanagara sudah berdiri sejak abad ke-2 Masehi, jauh lebih dahulu ketimbang Kerajaan Kutai Martadipura yang baru berdiri sejak abad ke-4. Meskipun diklaim lebih dahulu berdiri, sampai sekarang belum ada temuan lebih lanjut yang bisa melegitimasi pernyataan tersebut.

      Mendengarkan cerita, mitos, atau legenda memang lebih seru ketimbang mendengar penjelasan ilmiah yang kadang justru membosankan dan membingungkan. Terlebih legenda dapat membangkitkan imajinasi menjadi lebih aktif dan liar daripada pemaparan ilmiah. Mungkinkah ini sebabnya penjelasan non ilmiah lebih digandrungi oleh masyarakat?

         Pertanyaan ini berlanjut ke meja kuliah yang mana waktu itu diisi oleh Irmawati Marwoto-Johan, salah satu dosen arkeologi Universitas Indonesia yang menjelaskan tentang arkeologi alternatif.

"Masyarakat punya interpretasi sendiri dalam memaknai tinggalan arkeologi, jadi meskipun tidak berlandaskan ilmiah, interpretasi itu tetap harus diberi ruang sendiri" jelasnya. Hal inilah yang mendasari para ahli mengamini arkeologi alternatif sebagai bagian pseudo scientific archaeology.Dalam jurnalnya, Irmawati Marwoto-Johan menjelaskan penggunaan kata arkeologi alternatif dicetuskan oleh Tim Schadla-Hall (2004) sebagai padanan pseudo scientific archaeology ataupun fantasy archaeology yang mana hal ini lekat dengan penafsiran masyarakat awam atas benda cagar budaya yang ada di sekitar mereka.

        Lantas dimanakah posisi arkeologi alternatif dalam ilmu arkeologi dan masyarakat indonesia?

      Kebanyakan arkeolog menolak interpretasi yang di berikan oleh non-arkeolog. Mengapa begitu? Sebab pada dasarnya pengetahuan yang diberikan oleh para arkeolog sudah melewati tahapan ilmiah yang panjang sebelum menjadi suatu kesimpulan. Layaknya ilmu yang berkembang, kesimpulan ini boleh dibantah dengan penelitian selanjutnya yang juga berlandaskan ilmiah. Maka langkah arkeologi alternatif dinilai sebuah penyimpangan yang jauh mendekati kata "benar" karena hanya berlandaskan mitos atau legenda yang keabsahannya tentu diragukan.

               

                Keberadaan mitos-mitos di suatu benda atau bangunan termasuk kepercayaan lama yang ada di Indonesia, jauh sebelum ilmu arkeologi berkembang. Hal ini akhirnya menjadi legenda di suatu benda/tempat yang berakhir dengan pengeramatan. Bahkan tak jarang saking angkernya suatu tempat, penelitian ilmiah sering dihalang-halangi agar penduduk sekitar tidak mendapatkan bencana apabila mengganggu tempat tersebut. Tentunya interpretasi masyarakat tersebut tidaklah bisa disalahkan sepenuhnya, mengingat mereka hidup berdampigan dengan cagar budaya tersebut.    

                Arkeolog rupanya sudah memperhatikan aspek kedekatan masyarakat dengan benda cagar budaya; meletakkan hubungan mereka dalam harmoni saat pendataan namun juga berupaya untuk mengesampingkan fakta serta mitos dari masyarakat setempat. Hal inilah yang mengukuhkan status arkeolog sebagai interpreter utama. Malangnya, informasi penelitian yang harusnya menjadi konsumsi masyarakat hanya berakhir ditumpukan jurnal dan berakhir sesak di perpustakaan. Tak jarang ilmu-ilmu yang terangkup dari kertas berakhir di tangan pengepul ataupun penjual gorengan.

  Alhasil untuk memuaskan dahaga ketidaktahuan, maka masyarakat mulai berpaling kepada interpreter-interpreter yang lebih membumi. Paranormal, dukun atau sekarang populer juga dengan sebutan indigo. Masyarakat akhirnya mengesampingkan produk ilmiah dengan bahasa yang rumit dan mulai melihat penjelasan supranatural sebagai penjelasan utama. Perspektif masyarakat dalam menilai cagar budaya sangat dipengaruhi lingkup tempat tinggal serta pengalaman dalam berinteraksi dengan cagar budaya.

       Sebagai contoh kasus arkeologi alternatif adalah situs Trowulan yang penelitiannya terus dilakukan dari tahun 70 sampai sekarang, kurang mendapat antusias masyarakat dalam ulasan arkeologi. Situs Pendopo Agung misalnya yang dibangun oleh Kolonel Sampurna dianggap masyarakat sebagai pendopo keraton tempat Raden Wijaya dan juga pertapaannya. Banyak masyarakat yang berziarah dan bersemedi sembari memohon tuah dari tempat tersebut. Lain halnya dengan situs Siti Inggil yang dianggap sebagai makam Raden Wijaya dan istrinya, meskipun tidak ada bukti ilmiah, namun kepercayaan masyarakat akan makam tersebut sangat kuat. Sama halnya dengan Gunung Padang yang dianggap masyarakat sebagai piramida dan dikeramatkan.



Gambar 1. Pendopo Agung ( Sumber: Welly Handoko/travellingyuk.com)

               


Gambar 2. Siti Inggil yang diyakini masyarakat sebagai makam Raden Wijaya (Sumber: Dinas Pariwisata Mojokerto/disparpora.mojokertokab.go.id

      Selain masyarakat umum, ada beberapa kelompok yang menunjukkan eksistensinya dalam menilai benda cagar budaya dengan kacamata pseudo science, yang paling terkenal adalah Turangga Seta, komunitas pencinta sejarah dan budaya. Mereka banyak menafsirkan cagar budaya tanpa didasari narasi ilmiah atas ketidakpuasan terhadap tafsir sejarawan maupun arkeolog. Mereka memilih dupa dan roh leluhur sebagai medianya. Selain itu, terdapat pula interpretasi arkeologi alternatif yang sudah dibukukan semisal buku tentang Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman.

    Dengan mudahnya masyarakat melakukan penafsiran, benda cagar budaya menjadi lebih rawan rusak atau penyimpangan sejarah demi pemantapan tafsir seperti kasus prasasti palsu Sungai Ci Mandiri Sukabumi, penggalian Gunung Padang, ataupun kasus lainnya.



Gambar 3. Prasasti palsu yang diklaim ditemukan di Sungai Ci Mandiri Sukabumi (Sumber: Lutfi Yondri/tirto.id)

Gambar 4. Buku Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman karya Fahmi Basya (Sumber: Google)

   Pada akhirnya, peran arkeolog dalam dekade ini  tidak hanya menggali lalu mengolah temuan arkeologi, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam melakukan penafsiran, serta mengedukasi apa saja hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap cagar budaya. Sah-sah saja masyarakat ikut andil dalam penafsiran, entah itu penafsiran tunggal maupun kelompok. Interpretasi- interpretasi non arkeolog dimaksudkan untuk memberikan ruang dan melabelkan istilah "alternatif" daripada mengintimidasi mereka dengan mengatakan "palsu".

   Jelasnya, apapun penafsiran yang dilakukan, jangan sampai hal tersebut merusak cagar budaya ataupun memalsukan temuan. Barangkali kalau para arkeolog masih merasa kesusahan dalam menjangkau publik, boleh saja menilik arkeologi alternatif sebagai penyampaian informasi sekunder yang diselingi narasi ilmiah yang ringan, dan tentunya tidak keberatan jika dikisahkan layaknya  novel.


Minggu, 27 Desember 2020

Silat Cimande, Warisan Leluhur Sunda yang Berjaya

 

Gerak kepal tangannya menembus udara di sekitar kami hingga berhembus. Tangan yang mengayun dengan kokoh, membentuk semacam pagar penghalang bagi siapapun yang mencoba menyentuh badannya. Otot-otot tangan mengeras, terasa seperti sebuah ancaman halus dari balik kulit. Di tempat ini, meskipun dingin mengerubungi, semangat saya tetap menyala menyaksikan warisan tak benda ini diperagakan. Kelid, begitu nama jurus ini, diperagakan oleh Uwa Dama dan Ki Didih. Saya bersorak melihat jurus ketiga dalam Silat Cimande ini dipraktekkan langsung dihadapan saya.

Setelah usai, kami berbincang sembari menikmati kopi panas. Kebul asap kopi naik, perlahan-lahan menghilang dilalap udara dingin.

“Cimande itu meskipun terlihat keras, sebenarnya tekniknya tidak untuk membunuh, hanya menegur” terang Uwa Dama.

“Kuda-kuda yang dipakaipun jalannya mundur, itulah filosofi yang orang Cimande pegang tara pasea raga ” tambah Ki DIdih.

Memang Cimande diajarkan untuk menegur, bukan membunuh apalagi memusnahkan. Ki Didih, salah satu guru besar Cimande, menambahkan bahwa dasar Cimande itu adalah Taleq atau sumpah yang diambil sebelum menjadi murid. Taleq didasari atas ajaran agama Islam, oleh karena itu Cimande ini kental sekali dengan unsur Islam, meskipun belajar silat ini tidak terbatas untuk kalangan tertentu. Ada 14 poin dalam taleq ini yang harus dipatuhi seluruh pesilat Cimande. Salah satunya adalah belajar cimande bukan untuk gagah-gagahan tapi untuk mencari keselamatan dunia akhirat.


Silat Cimande diakui merupakan bentuk silat tertua di Tanah Pasundan oleh aliran silat lainnya. Silat Cimande berasal dari Desa Cimande terletak di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Suasana desanya asri, dihimpit antara dua gunung, Gede dan Salak, selalu dihembusi angin baik siang dan malam menjadikan suasana sejuk dikala siang dan dingin dikala malam menjelang. Ada 5 kampung yang membentuk desa ini yaitu Tarikolot, Nangor,  Babakan, Lemah Duhur, dan Kampung Baru.

Dalam beberapa versi asal usul silat ini, Abah Khaer merupakan tokoh yang berjasa menyebar luaskan aliran ini hingga menjadi terkenal. Berdasarkan versi Kampung Tarikolot, Silat Cimande merupakan keterampilan yang diajarkan serta diwariskan oleh leluhur-leluhur Cimande untuk menjadi pelajaran bagi anak cucu. Gerakannya terinspirasi dari gerakan tubuh sehari-hari sehingga silat ini lekat dalam kehidupan.

Ada tiga bentuk jurus yang diajarkan dalam Silat Cimande yaitu  Kelid Cimande, Pepedangan, dan  Tepak Selancar. Belajarnya pun tidak diawali dengan kuda-kuda berdiri, tetapi duduk terlebih dahulu. Hal ini mengandung makna bahwa manusia memulai sesuatu secara berangsur-angsur. Tiada berdiri tanpa duduk terlebih dahulu.

Ki Didih merupakan keturunan langsung dari sesepuh Cimande Tarikolot. Diajari oleh beliau merupakan berkah tersendiri bagi saya sebagai penggemar beladiri tradisional. Beberapa jurus dasar beliau ajarkan kepada saya. Kelihatan keras tangan beliau mulai menghantam tangan saya yang kurus. Sebentar saja tangan saya mulai terasa nyeri. Hasilnya langsung terlihat. Bengkak.

Setelah dirasa cukup, bukannya menyudahi latihan, beliau malah menambah porsi latihan dengan kecer tangan. Kata beliau tangan saya belum cukup terlatih, maka perlu ditambah lagi. Kecer tangan memang menjadi bagian dari tahapan latihan Silat Cimande, fungsinya adalah menggeser serat daging yang ada di tulang, hingga nantinya mengurangi rasa sakit ketika tangan menghantam tangan. Kecer tangan menggunakan media tebu yang sudah dipadarkan dalam sekam padi yang panas hingga air tebunya hilang dan menjadi lebih keras.

Tebu mulai diayunkan. Puk puk puk, suara tebu bertemu dengan tangan saya. Tangan menjadi memerah, lama-lama terlihat membiru. Rasanya nyeri seperti terantuk meja sekolah.

Peurih kudu jadi peurah” ucap Ki Didih kepada saya. Dan memang belajar silat inilah tujuan saya datang kemari.

Hari-hari selanjutnya ketika tangan saya sudah terlihat seperti raksasa, barulah tangan saya mulai diurut Ki Didih.

“Orang tua kita dahulu mewariskan ilmu tidak tanggung-tanggung, kita juga diajarkan untuk mengurut sebagai bagian dari latihan Silat Cimande” papar Ki Didih dihadapan saya. Nyut-nyutan rasanya ketika balur penca diusapkan ke tangan. Balur Penca dibuat khusus oleh guru-guru yang mempunyai silsilah, tidak sembarangan orang bisa membuat minyak ini.

Sembari memperhatikan, saya juga diajari cara mengurut tangan saya yang bengkak. Cimande bukan cuma diajarkan “merusak” tapi juga diajarkan cara memperbaikinya.

Saung Penca tempat Ki Didih melatih, tidak pernah sepi dari orang-orang yang datang berkunjung, entah untung belajar silat, silaturahmi, atau bahkan urut. Bahkan orang-orang dari luar negeri yang penasaran dengan Silat Cimande langsung datang belajar kesini. Inilah  mungkin sebagian keberkahan ilmu sesepuh Cimande yang hingga kini dirasakan, sesepuh Cimande tidak pernah kemana-mana tapi Cimande terkenal dimana mana.

Pesilat Cimande cilik mempraktikkan jurusnya

Ki Didih mengajari anak-anak Silat Cimande

Bersama Ki Didih

Latihan rutin setiap malam minggu


*Tulisan ini pernah dimuat di telusuri.id


Senin, 10 Agustus 2020

Obrolan Dikala Memancing

 

 

                Pagi ini secerah pagi-pagi biasanya. Kami berencana memancing hari ini. Sehabis masa PSBB yang mengurangi waktu diluar rumah, memancing terasa lebih istimewa daripada biasanya. Meski masih harus menggunakan masker, kami melajukan kendaraan kami menuju toko pemancingan yang menjual semua kebutuhan pemancing. Membeli joran baru dan umpan pancing. Tampaknya umpan ludes diborong para pemancing yang berhamburan hari ini. Kami disisai sedikit saja, sekedar cukup memuaskan hasrat memancing yang beberapa waktu yang lalu sempat dilarang pemerintah daerah.

                Kami menuju spot pemancingan, terletak dibelakang perumahan yang dulunya adalah rawa-rawa serta sawah. Umpan kami sisitkan, kail kami turunkan dan satu-dua ikan mulai masuk ke ember kami. Menggelepar.

                Tak jauh dari kami ada seseorang yang nampaknya sedang membersihkan belukar yang mulai tumbuh disela sela tanaman padi. Mimiknya serius. Nampaknya begitulah kerja harian yang dia lakukan sehabis menanam padi. Beliau menghampiri kami dan menanyakan hasil pancingan kami hari ini. Pembicaraan seputar korona seakan menjadi menu wajib obrolan. Beliau mengeluhkan kenapa harus rumah ibadah yang ditutup? Toh mall-mall tetap bisa buka dengan protokol kesehatan yang ketat. Sedangkan mesjid, kenapa tidak? Apa karena masuk mesjid 5x sehari sehingga ditakutkan menjadi episentrum penyebaran korona? Toh siapa yang bakal masuk mall sehari 5x? Mending dibuka saja toh yang ke mall pasti orang berduit ini? Kata pemerintah kan penyebaran penyakit dari orang miskin ini. Bukan orang kaya.

                 "Memang manusianya udah lama kiamat meski dunianya belum" ucap Pak Aman. Benar juga, kelakuan manusia sudah dari dulu kiamat. Katanya semakin mendekati kiamat, maka kelakuan manusia semakin rusak. Lha kan dari awal manusia itu udah rusak sampai malaikat saja bingung dengan maksud penciptaan kita yang katanya bakal membawa kerusakan di muka bumi. Beliau mengakhiri pembicaraan dengan mengajak kami mampir di rumahnya suatu saat kalau memancing lagi. Kami mengganguk tanda setuju dengan tawaran tersebut. Lagipula menambah banyak relasi justru menyenangkan.

                Matahari sudah diatas kepala. Semenjak Pak Aman pergi,ikan ikan juga nampaknya tak lagi menghampiri pancingan kami. Kami berpindah tempat menuju tempat yang kami perkirakan lebih banyak ikannya. Berharap pulang sembari membawa sebakul ikan. Ternyata tempat baru tidak seindah yang dibayangkan. Ikan yang kami dapat lebih sedikit dari sebelumnya. Namun sebaliknya, pemancing lain nampak membawa ember berisi ikan-ikan besar. Dongkol rasanya mengetahui kenyataan tersebut. Pancing yang sama umpan yang sama tapi hasil yang berbeda. Apakah ini adil? Kami menyadari kami keliru kala beriri hati. Memancing adalah pembelajaran untuk menjadi sabar. Tolak ukur umpan tak dapat dijadikan patokan besarnya ikan, panjang joran tidak membuatmu lebih banyak menangkap ikan. Terus apa patokannya? Tentu saja tidak ada. Seperti hidup apa patokan sukses? Kaya kah? Jabatan kah? Tidak tahu, saya tidak bisa menjawab.


Kami hanya berharap kami beruntung hari ini.

 

                Seorang petani jeruk menyuruh kami mengambil berapa saja jeruk yang ada di kebunnya, di tempat kami memancing. Dia berbicara banyak kepada kami mengenai hasil panen tahun ini atau bagaimana orang memborong jeruknya dalam sehari. Senyumnya saat berbicara mampu membuat siapa saja betah mendengarkan ceritanya. Menurut dia Jeruk Madang, yang dia tanam mempunyai rasa yang berbeda daripada jeruk dari daerah lain di Kalsel. Tidak terlalu masam dan juga tidak terlamapau manis. Sedang saja. Menurutnya lagi rasa secukupnya inilah yang membuat Jeruk Madang digemari di daerah Kalsel. Pemancing disebelah kami ikut senyum-senyum mendengar cerita sang petani meski kelihatannya umpannya tak kunjung disambar ikan. Konon kalau terlambat panen, si petani bakal kehilangan jeruk dalam jumlah banyak, soalnya sering ada pencurian hasil panen besar-besaran yang bakal merugikan si petani.

                Sebelum pulang kami diberi oleh oleh beberapa Jeruk Madang oleh beliau. Beberapa kami simpan, sisanya kami bagikan kepada para pemancing yang juga ada disekitar kami. Sudah selayaknya kami tidak nikmati sendiri hadiah dari sang petani.

                Puas kami rasakan hari ini meskipun ikan yang kami peroleh hanya sedikit.



   Buah cemot yang sudah mulai jarang terlihat

                                          

Jeruk Madang, konon memiliki kulit tipis dan daging tebal dengan wangi semerbak

                Jeruk Madang, konon memiliki kulit tipis dan daging tebal dengan wangi semerbak

Prasasti Tamban: Kajian Epigrafi

 

 

Abstrak

     Prasasti Tamban dari Banjar merupakan sebuah prasasti kayu ulin yang beraksara Jawi dan berbahasa Banjar. Tahapan penelitan yang digunakan adalah tahap heuristik, tahap kritik teks, tahap interprestasi, dan tahap historiografi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui isi serta analisis isi dari prasasti Tamban, serta melihat kedudukan prasasti ini dalam sejarah Kerajaan Banjar. Hasil penelitian menunjukan bahwa prasasti Tamban ini berisi aturan regional yang berbentuk larangan yang ditulis oleh tetuha kampung atas dasar perintah Sultan Adam. Larangan-larangan tersebut diantaranya adalah memainkan meriam bambu, taruhan, serta mencuri bambu-bambu yang sudah ditebang. Kedudukan prasasti ini dalam sejarah Kerajaan Banjar adalah sebagai peraturan yang bersifat regional yang berlaku di daerah tertentu dan hanya dituliskan oleh tetuha kampung berdasarkan Undang-Undang Sultan Adam.

      Kata Kunci: Analisis, Banjar, Epigrafi, Prasasti

     

Abtract

      Tamban inscription from Banjar is an ironwood inscription with Jawi script and Banjar language. The research stages used are the heuristic stage, the stage of textual criticism, the stage of interpretation, and the stage of historiography. The purpose of this study was to determine the contents and analysis of the contents of the Tamban inscription, and see the position of this inscription in the history of the Banjar Kingdom. The results showed that the Tamban inscription contained regional rules in the form of a ban written by the village head on the orders of Sultan Adam. These prohibitions include playing bamboo cannon, betting, and stealing bamboo that has been cut down. The position of this inscription in the history of the Banjar Kingdom is as a regional regulation that applies in certain regions and is only written by the village head based on the Law of Sultan Adam.

 

      Key words:Analysis, Banjar, Ephigraphy , Inscription

download here

Menjadi Titik (2020)

 

Menjadi Titik

derita titik pada satu kalimat

hanya pelengkap untaian

tanpa ia kalimat akan baik-baik saja

meski terlihat acuh

.

lain waktu, titik menjadi pertanda

bagi nelayan mencari arah pulang

dari rimbaian selongsong kenangan

.

semesta hanya berisi titik titik

yang kemudian diisi dengan benar

 

Persimpangan Jalan

Rasa-rasanya dulu

dipersimpangann  jalan kita bertemu

Bersamping-sampingan tapi tetap terus jalan

 sampai kita berada di jalan yang lurus

Aku kira itulah penghujung jalan

yang berikut orang suci khutbahkan

Kita ternyata salah menyangka

Jalan yang lurus

hanya gang buntu di tengah cuap-cuap kota yang

sakit kena korona

 

Membaca

Sebenar-benarnya membaca

adalah membaca kesalahan diri sendiri

 

Kita Begitu

Begitulah kita

Menua

Menjadi Debu

Tanpa bisa bersatu

Kamis, 02 Juli 2020

Menyelami masa melewati batas: Jelajah Pulau Kelor, Cipir, dan Onrust


Gugusan pulau-pulau kecil yang menyebar di utara Jakarta dinamakan Kepulauan Seribu meskipun tentu saja jumlahnya tidaklah sampai seribu pulau. Kepulauan Seribu menjadi tujuan wisata utama terutama bagi penduduk ibukota Jakarta untuk menikmati deru air laut ataupun sekedar sunset di pantai. Secara administratif, Kepulauan Seribu sudah menjadi kabupaten sendiri (sebelumnya wilayah ini menjadi salah satu kecamatan di Kota Jakarta Utara).


Kepulauan seribu dari Google Maps

Saya berkesempatan mengunjungi Pulau Onrust, Cipir, dan juga Kelor untuk menuntaskan rasa penasaran mengenai tinggalan arkeologis yang terdapat di pulau-pulau tersebut. Sebagai mahasiswa baru arkeologi, rasa ingin tahu saya mengenai tinggalan kolonial sangat tinggi, terlebih di kota asal saya tidak banyak tinggalan kolonial yang tersisa. Kami berkumpul bersama di Kota Tua Jakarta untuk memudahkan mobilisasi rombongan yang kurang lebih berjumlah 10 orang. Kami berangkat menuju Pelabuhan Muara Kamal, titik start perjalanan kami kali ini. Memasuki dermaga tampak TPI hiruk pikuk dengan penjual dan pembeli yang berjejal. Air disekitar dermaga sangat hitam dan bau, pertanda air laut disini telah tercemar berat. Kapal berbaris hilir mudik  di dermaga, sebagian mengangkut hasil laut, sebagian lagi mengangkut penumpang dan barang.
Penangkaran kerang hijau yang kami lihat sepanjang perjalanan 

Kapal motor yang kami tumpangi mulai berjalan pelan meninggalkan dermaga. Kanan kiri kami mulai terlihat keramba bambu yang digunakan untuk membudidaya kerang hijau. Berdasarkan penelitian, kerang hijau di Teluk Jakarta sudah banyak tercemar logam berat dan berbahaya jika dikonsumsi manusia. Bagaimanapun, rasanya sulit untuk menghentikan konsumsi kerang hijau dari Teluk Jakarta yang masih menjadi komoditas di warteg-warteg Jabodetabek. Pulau-pulau reklamasi juga turut menghiasi perjalanan kali ini. Meski sudah banyak mendapatkan protes, pembangunan terus dilanjutkan . Lagi-lagi alasan ketersediaan lahan menjadi pemicu pemerintah kekeh dengan reklamasi.
Reklamasi yang mulai terlihat

40 menit berlalu, sampailah kami ke Pulau Kelor. Dibanding dua pulau lainnya yang akan kami kunjungi, pulau ini adalah yang terkecil. Meskipun terkecil, pulau ini punya ikon yang tidak dimiliki oleh pulau-pulau lainnya yaitu Benteng Martello yang masih kokoh berdiri. Bata merah benteng ini terlihat mencolok dengan latar laut dan langit biru. Berbentuk bundar dengan tinggi 9 meter dan diameter 14 meter, benteng ini sudah mengalami banyak kerusakan  meskipun bentuk aslinya masih terlihat utuh . Berdiri semenjak 1850, sebagai gerbang utama Batavia melalui jalur laut benteng ini difungsikan sebagai menara pengintai dan benteng pertahanan. Julukan lainnya pulau ini adalah Pulau Kuburan. Konon di pulau ini banyak terdapat kuburan-kuburan pribumi maupun orang-orang Belanda sekitaran Onrust yang nisannya sudah tidak terlihat lagi. Saya menemukan beberapa potongan tulang rahang binatang tercampur bersama terumbu karang yang mati.
Sisa Benteng Matello yang ada di Pulau Kelor

Puas melihat sekeliling, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Cipir. Pasir putih menyambut kaki kami yang basah sehabis turun dari kapal. Terik matahari membuat kulit kami tebakar, beruntung Pulau ini cukup rindang untuk menaungi kami. Tidak jauh dari bibir pantai, sisa-sisa bangunan terbengkalai menjadi pemandangan menyeramkan sekaligus penuh sejarah. Bangunan ini dahulunya difungsikan sebagai rumah sakit karantina para jemaah haji pada masa pemerintahan Kolonial. Lorong demi lorong rusak saya masuki, warna bangunan yang memudar seakan bercerita kisah sedih jamaah haji yang seakan menjadi tahanan. Pemerintah Kolonial nampak khawatir dengan ide-ide perjuangan yang mereka dapatkan selama di tanah suci. Selepas mengelilingi puing-puing, kami duduk sejenak di pinggir pantai meregangkan kaki yang sudah lama berjalan.
 Rumah sakit haji yang sekarang tinggal puing
Pantai Cipir yang panas sekali

Matahari sudah tidak lagi diatas kepala, perjalanan selanjutnya adalah menuju Pulau Onrust. Onrust yang berarti unrest dalam bahasa inggris karena saking banyaknya kapal yang masuk ke galangan kapal di Onrust. Ditarik kebelakang, sejarah kepulauan seribu pada umumnya adalah tempat peristirahatan raja-raja Banten, namun karena sengketa dengan Jayakarta, Jayakarta mengizinkan VOC untuk mendirikan galangan kapal disana. Lambat laun VOC mulai menjadikan Onrust koloni dan mulai membangun benteng kecil pada 1656. Bahkan Sir James Cook pernah singgah ke Onrust untuk memperbaiki kapal dan mengisi perbekalan sebelum sampai di Australia. Setelah sempat diduduki Inggris pada periode 1810-1816, pembangunan Pulau Onrust dilanjutkan lagi oleh pemerintah Kolonial dan 1911 beralih fungsi menjadi tempat karantina haji. Tahun 1972, SK penetapan Pulau Onrust sebagai pulau bersejarah diterbitkan oleh gubernur DKI Ali Sadikin.
Benteng di Pulau Onrust memang sudah tidak bersisa, tetapi sebuah rumah yang masih tersisa disana kini dijadikan museum. Museum yang menjelaskan Pulau Onrut dari zaman VOC yang dijadikan galangan, sempat menjadi karantina haji  hingga akhirnya dijadikan penjara bagi tahanan politik pada zaman Jepang. Unsur mistis menjadi kental di pulau ini sebab kuburan-kuburan era kolonial masih utuh, yang paling terkenal dari mereka ialah Maria van de Velde yang konon masih bergentayangan di pulau ini. Selain itu ada sebuah dua buah makam keramat lainnya yang salah satunya dipercaya makam dari pemimpin DI/TII Kartosoewirjo.
Rumah peninggalan Belanda yang sekarang menjadi Museum Onrust
Inskripsi nisan Maria van de Velde

Sehabis selesai menyelesaikan tur hari ini, beberapa rombongan kami pamit untuk pulang. Kami mengantarkan mereka sampai dermaga Onrust. Tersisa kami bertiga bersama seorang senior kami yang juga sebagai kepala rombongan. Kami memang mau melanjutkan hari di Pulau Onrust sebelum pulang besok pagi.

Para pemancing yang sedari siang duduk menunggu ikan disambar menjadi teman ngobrol kami di sore hari. Sore itu langit tak ditutupi awan sehingga matahari bersinar kuning nampak terang berkilau. Saya menyingkir dari mereka bertiga , kembali mengunjungi makam Maria van de Velde. Meskipun rimbunan pohon beringin membuat suasana menjadi menyeramkan. Entahlah, aku merasakan aura kesunyian seorang wanita dengan penantiannya yang tidak berujung. Saya merasa iba.
Pemancing yng menjadi teman ngobrol kami di sore hari

Malam ini kami habiskan waktu bercengkrama di pinggir pantai. Dari seberang, cahaya lampu apartemen gemerlap menemani obrolan kami. Kami mengobrolkan banyak hal; tentang studi kami yang baru saja di masa awal, tentang tinggalan arkeologi seputaran Kepulauan Seribu, hingga cerita mistis pulau ini. Tidak ada api unggun, tidak ada perayaan. Selepas ngalor ngidul, kami menuju tenda dan beranjak tidur diantara sisa bangunan dan teluk Jakarta.


*Tulisan ini pernah dimuat di telusuri.id 

Rabu, 24 Juni 2020

Pelajaran dari Baduy


                Bersentuhan dengan suku-suku yang mengasingkan diri dari kehidupan modern adalah pertama kalinya saya lakukan saat mengunjungi Baduy. Urang Baduy atau Urang Kanekes menghuni sekitar kawasan Pegunungan Kendeng, sejauh 40 km dari kota Rangkasbitung. Suasana dingin pegunungan ditambah kicauan burung menjadi ucapan selamat datang begitu menginjakkan kaki disana. Suku Baduy ini dibagi menjadi dua bagian ada Baduy Luar dan Baduy Dalam. Baduy Luar terlihat lebih santai dalam memegang adat mereka, meskipun itu tidak berarti mereka meninggalkannya. Ciri yang terlihat lainnya adalah dari ikat kepala berwarna biru yang disandang oleh para Baduy luar, sedangkan Baduy Dalam menggunakan ikat kepala putih, begitu pula dengan pakaian yang mereka kenakan, Baduy Dalam mengenakan baju kampret berwarna putih sedangkan Baduy Luar berwarna hitam. Kawasan wisata Baduy menjadi sangat populer karena membuat orang penasaran; bagaimanakah orang Baduy mampu bertahan dengan tradisi mereka ditengah gempuran kehidupan modern dimana-mana.
Kang Mul bersama anak gadisnya

                Kami akan menuju rumah Kang Mul, seorang warga Baduy Luar yang menjadi tuan rumah kami di perjalanan ini. Seperti trekking pada umumnya, kami melewati jalanan naik turun yang menguras tenaga habis-habisan. Rute yang kami tempuh adalah Ciboleger-Kaduketug-Balimbing-Marengo-Gajeboh yang masuk dalam kawasan Baduy Luar.  Sepenglihatan saya memang orang-orang Baduy tidak memakai alas kaki, bahkan ke jalan aspal yang panas sekalipun! Menurut Kang Mul hal ini merupakan bentuk kesyukuran terhadap yang Maha Kuasa, mereka memanfaatkan semaksimal mungkin pemberian yang murni tanpa harus ada penambahan apapun.
                Beberapa bocah melintas dengan polosnya, memangku durian di pundak, berjalan berduyun-duyun seakan-akan bakal ada hajatan besar hari ini. Hasil hutan yang mereka kumpulkan dibawa kearah Ciboleger dan dikumpulkan oleh pengepul. Saya rasa bocah sekecil mereka pun memiliki keuletan yang luar biasa, ditambah medan yang naik turun, stamina bocah ini pasti kuat bukan main. Kami mencoba mengabadikan beberapa momen yang kami rasa unik. Senyuman mengembang dibibir mereka.
"Mereka memang terbiasa keluar masuk hutan" kata Kang Mul
Beratnya durian tidak membuat langkah mereka terhenti

                Sepanjang perjalanan kami mengamati beberapa rumah yang kami lewati, semuanya tidak menggunakan  paku untuk merekatkan satu dengan yang lain melainkan diikat, dan pondasi bangunan menggunakan sebuah batu yang digunakan untuk menopang agar tidak menyetuh tanah. Selain untuk menjaga keseimbangan rumah karena kontur tanah yang bergelombang, hal ini juga merupakan salah satu adat dalam pendirian rumah, termasuk cara hadap rumah ke utara-selatan. Beberapa rumah menjual camilan layaknya toko kelontong, mungkin ini efek dari banyaknya wisatawan yang berdatangan ke wilayah mereka. Selain rumah, kami juga mendapati leuit, tempat penyimpanan padi. Bentukannya cukup menyerupai rumah namun dengan ukuran yang lebih kecil. Konon leuit bisa menyimpan padi sampai bertahun-tahun lamanya dan terbebas dari jerat hama seperti tikus. Padi juga tidak boleh dijual, sebagai tanda hormat kepada Dewi Sri, sang dewi alam.
               
 
Diantara rumah-rumah tradisional Baduy
                Pondok teu meunang disambung, nu panjang teu meunang dipotong , begitulah pepatah suku Baduy dalam menjaga harmoni dengan alam. 
                Berbeda dengan kita yang hidup di perkotaan. Dengan segala kemoderanan kita merampas kekayaan alam semena-mena atas dasar keserakahan. Hutan hujan dijadikan lahan sawit beribu-ribu hektar, tambang yang tidak direstorasi, hingga PLTU yang mematikan penyu. Lebih banyak merusak dibanding memelihara.
                Kami kemudian melewati jembatan akar yang menjadi kawasan populer bagi wisatawan. Spot ini terlihat menarik bagi kami, terbuat dari bambu dan akar pohon yang disambung sehingga memberikan kesan unik sekaligus misterius. Kami turun ke tepi sungai Cisemet demi merehatkan sejenak kaki kami yang pegal.
Pose di Jembatan Akar

                Asyik berjalan kami lupa bahwa awan hitam yang semenjak sampai di Ciboleger terus mengikuti kami. Sejurus kemudian hujan deras datang menghambur dari langit. Untungnya kami dapati sebuah saung yang kosong untuk tempat berteduh. Intensitas hujan cukup deras, hingga sekonyonh-konyongnya air menuruni jalan berbukit di hadapan kami dengan cepatnya. Suasana ini kami manfaatkan untuk bertanya banyak hal mengenai Baduy ke Kang Mul.
                Hampir saja malam mulai menutup langit barulah kami tiba di rumah Kang Mul. Setelah tadi cuman melihat dari luar, sekarang kami mulai masuk ke dalam rumah adat. Kami disambut hangat oleh keluarga Kang Mul. Durian hasil panen juga dipersilahkan kepada kami untuk dicicipi. Kami duduk melingkar sembari dijamu makan malam. Jantung pisang mentah juga menjadi sajian yang tidak lupa saya nikmati, meskipun terasa sepat di lidah saya.

                "Nyi Pohaci Sanghyang Asri bagi kami sangat penting sebagai dewi yang menyuburkan tanah-tanah kami" ucap Kang Mul. Orang Baduy juga percaya nabi Adam awal turunnya ke sasaka domas pusat semesta yang sekarang menjadi bagian hutan terlarang. "Hutan terlarang tidak boleh dijamah sembarangan dan hanya bisa dimasuki oleh tetua adat karna merupakan kawasan yang suci". Kang Mul juga bercerita bahwa sejak jaman dulu pemerintah sudah ingin mendirikan sekolah di kawasan Baduy tapi hal itu ditolak mentah-mentah. "Kalau nanti pada sekolah, punya ilmu tinggi, merantau ke tempat jauh dan tidak mau tinggal di Baduy lagi, siapa lagi yang akan melestarikan adat kami?"
                Benar juga. Kalangan terdidik biasanya menjadi egois, menanggap budaya nenek moyang sebagai hal kolot yang tidak berguna. Jarang ada yang membangun kampungnya kembali, terlebih sudah bisa hidup enak dan kerja nyaman. Boro-boro mau kerja di Indonesia, tujuan utama kalau tidak Eropa ya Amerika. Mungkin hal ini lah yang ditakutkan warga Baduy ketika pendidikan masuk ke tempat mereka. Kacang lupa kulitnya.
Mencoba menjadi ala ala Baduy

                Besok paginya kami harus jalan ke tempat keluarga Kang Mul yang berjualan cinderamata khas, ada ikat kepala, gelang , kain tenun, juga madu. Saya dikasih tahu cara memakai ikat kepala ala Baduy. Ikatannya sederhana dan mudah dipelajari, seperti hidup mereka, sederhana dan memberi arti. Mungkin saya harus kembali lagi, memuaskan dahaga akan rasa penasaran akan kehidupan mereka yang bersahaja.
 
Kain tenun khas Baduy

*Tulisan ini pernah dimuat di telusuri.id dengan judul Pelajaran dari Baduy

Rabu, 01 April 2020

Prasasti, Pemancing, dan Pengrajin


Saya banyak menimbang-nimbang dalam keputusan mengambil topik skripsi terutama urusan kedekatan personal dengan objek penelitian. Kedekatan personal ini bisa dari berbagai aspek: jarak tempuh menuju objek yang dekat, berasal dari satu daerah yang sama dengan objek, atau menguasai bidang kelimuan objek tersebut. Dari sekian banyak topik akhirnya muncul keinginan untuk membahas prasasti yang berada di Museum Lambung Mangkurat.  Prasasti tersebut terbuat dari kayu ulin dengan pahatan berupa huruf Jawi atau huruf Arab Melayu dengan bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar.

Berdasarkan deskripsi museum, prasasti ini ditulis berdasarkan perintah Sultan Adam mengenai larangan petasan pada bulan puasa. Menurut pemandu museum, prasasti ini belum pernah diteliti secara resmi yang ada hanya pembacaan awal saja. Dengan alasan yang sudah saya kemukakan diawal, saya resmi memilih prasasti ini sebagai objek peneltian saya. 

Prasasti yang ada di Museum Lambung Mangkurat

Mengungkap huruf demi huruf yang ada pada prasasti ini tidaklah mudah, saya dibantu oleh sanak saudara, peneliti di balai bahasa maupun pegawai museum yang menguasai huruf Arab Melayu. Setelah bersusah payah akhirnya terungkaplah bahwa prasasti ini tidak hanya menjelaskan larangan petasan namun ada juga larangan taruhan maupun mencuri. Setelah prasasti ini terbaca utuh, masih ada perkara lainnya yang belum terpecahkan; siapakah yang membuat prasasti ini? Untuk siapa larangan ini ditunjukkan? Dan darimanakah asal prasasti ini?

Untuk menemukan jawaban-jawaban pertanyaan diatas, selain melakukan studi pustaka saya juga melakukan beberapa kunjungan dan wawancara. Salah satunya melakukan kunjungan ke Kabupaten Hulu Sungai Utara. Saya berangkat menuju kabupaten Hulu Sungai Utara tepatnya menuju Alabio. Berdasarkan hasil studi pustaka, kosa-kata yang ada di prasasti ini merujuk ke kosakata Banjar Hulu, lebih tepatnya ke daerah Banua Lima yang sekarang menjadi Kabupaten Hulu Sungai Utara dan sebagian daerah Kabupaten Tabalong.

Saya menumpang di rumah sepupu saya sekaligus mengkoreksi hasil terjemahan saya, maklum mereka adalah orang asli daerah sana sehingga saya harap mereka bisa menjadi sumber sekunder saya. Pengkoreksian malam itu cukup menyita waktu. Sembari berdiskusi saya menikmati hidangan yang disediakan bibi saya: ikan papuyu (betok) goreng dengan cacapan. Makanan khas Banjar ini berhasil memicu diskusi menjadi lebih intens diselingi candaan ala Alabio yang terkenal seantero Kalsel.

Mesjid Jami Pandulangan, salah satu mesjid tua yang ada di kabupaten HSU

Setelah mendapatkan masukan mengenai pembacaan prasasti, besoknya saya diajak oleh sepupu saya untuk menikmati keindahan Danau Panggang sekaligus memancing disana. Danau Panggang merupakan sebuah  nama kecamatan yang terletak di Kabupten Hulu Sungai Utara. Daerah ini 65% bagiannya terdiri dari rawa-rawa dan sungai. Rumah-rumah penduduk berdiri rapi diatas sungai dan rawa, terpisah dari jalan aspal dan dihubungkan oleh titian-titian kayu antar rumah.

Mata pencaharian penduduk kebanyakan adalah penangkap ikan. ikan hasil tangkapan menjadi ladang ekonomi bagi masyarakat, sebagian diolah menjadi ikan asin ataupun dijual dalam keadaan segar. Selain itu sebagian masyarakat membuat tambak ikan dipinggir sungai. Pentingnya sungai berarti juga mengikat pada pentingnya transportasi air. Hampir semua rumah mempunyai perahu; baik perahu kecil atau yang biasa disebut perahu cas ataupun perahu besar yang disebut kelotok

Sepat asin yang menjadi komoditas di Danau Panggang

Sebelum berangkat ke Danau Bitin, saya singgah ke rumah salah seorang keluarga yang berprofesi sebagai pencari ikan. Sembari menunggu persiapan memancing, saya ngobrol dengan seorang kakek yang tampaknya sudah sangat sepuh. Dari informasi yang saya peroleh, kampung ini sudah lama berdiri, bahkan jauh sebelum Kerajaan Banjar berdiri.

"Di kampung ini bahkan tidak ada perantau dari daerah lain, mungkin mereka tidak mau tinggal diatas sungai dan rawa" kata sang kakek.

 Berbanding lurus dengan pernyataan sang kakek, menurut Hikayat Banjar, daerah Danau Panggang dulunya merupakan pusat Kerajaan Kuripan berdiri, sezaman dengan Kerajaan Kutai Martadipura. Setelah persiapan telah lengkap, saya berpamitan dengan si kakek dan memulai perjalanan menyusuri Danau Bitin. Kami berangkat bertiga bersama Paman Usup dan temannya. Sayangnya, sepupu saya memilih untuk batal ikut serta karna suatu hal. 

Mancing ditengah danau yang panas!

Danau Bitin tidak seperti danau pada umumnya, danau ini terlihat lebih mirip dengan sungai bercampur rawa yang luas. Menyusuri danau, terdapat beberapa perkampungan yang berdiri diatas air tanpa jalan raya sama sekali, bahkan tiang listrik ikut menancap diatas air. Toko kelontong buka melayani pembeli yang berbelanja dari atas perahu. Hilir mudik perahu memecah kesunyian danau dan menimbulkan gelombang air. Perahu yang kami naiki sangat kecil sehingga gelombang terasa sangat mengombang-ambingkan perahu. Selama di perahu, kita tidak boleh banyak bergerak yang tidak perlu, dan jangan panik ketika ada gelombang air datang.

Salah satu sudut Danau Panggang

Berbeda dengan memancing di daratan yang selalu ada tempat untuk bernaung, memancing di tengah danau harus tahan siksaan panas matahari yang siang itu bersinar tanpa dihalangi awan. Kesabaran mutlak dibutuhkan dalam memancing. Biasanya para pemancing meluangkan waktu hampir 12 jam di perahu apabila hasil tangkapan kurang memadai. Beberapa kali juga kami harus pindah spot karena kurangnya hasil tangkapan. Tidak ada umpan khusus yang digunakan, hanya remah remah roti di rumah yang kemudian dikeraskan. Ikan yang kami dapat kali ini kebanyakan berupa ikan Patin Sungai yang lemaknya lebih sedikit daripada Patin Tambak.


Sore sudah mulai tiba namun hasil tangkapan terlalu sedikit untuk dibawa pulang. Akhirnya Paman Usup memutuskan untuk tinggal lebih lama dan saya dititipkan naik perahu kenalan yang kebetulan habis pulang dari hilir. Hari itu ditutup sunset yang sangat indah di danau, dengan latar belakang  perkampungan diatas air.

Asa manusia terus memungkinkan untuk bertahan ditengah kondisi alam yang tidak memungkinkan hingga akhirnya muncul sebuah kebudayaan baru. Rawa dan sungai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kebudayaan masyarakat Banjar terutama dalam menyambung hidup. Banyaknya produk budaya seperti alat-alat menangkap ikan tradisional memperlihatkan ikatan yang kuat antara orang Banjar dengan sungai dan rawa. Begitupun sebagai sarana transportasi, berbagai macam jenis perahu diciptakan untuk berlayar dari hulu ke hilir.

Seminggu setelahnya saya berkunjung lagi ke Alabio, juga ditemani sepupu saya. Tujuan kali ini adalah mendapatkan data tentang bambu di daerah sini dan cara pengolahannya dengan melihat langsung ke tempat kerajinan alat menangkap ikan dari bambu. Bambu menjadi esensial dalam penelitian ini karena disebutkan dalam prasasti bahwa dilarang mencuri berbagai jenis bambu seperti Batung, Buluh, dan Paring. Kemungkinan bambu-bambu itu ditulis karena berkaitan dengan tempat yang diatur oleh prasasti tersebut terdapat banyak bambu.

Tidak jauh dari rumah sepupu saya, hanya berjalan kaki sekitar 5 menit maka sampailah kami di depan rumah sang pengrajin, Amir Husin . Amir dan bapaknya adalah pengrajin alat-alat menangkap ikan yang diteruskan secara turun temurun. Amir, yang usianya tidak terpaut jauh denganku menjelaskan secara rinci jenis-jenis bambu yang digunakan, cara pengolahannya, termasuk juga hasil kerajinannya. 

Ada beberapa alat seperti lukah, sarakap, tangguk, tantaran, dan lainnya yang bahannya terbuat dari bambu. Bambu yang digunakan juga terdiri dari beberapa jenis semisal batung, buluh, paring, dan lainnya. Hal ini tentu menjadi informasi yang berharga untuk pengerjaan penelitian bahwa kawasan sentral pengrajin alat-alat penangkap ikan semenjak dahulu ada di Hulu Sungai karena tersedianya bahan baku.

 
Sarakap
Tangguk

Keesokan harinya, saya kembali melakukan pengambilan data lagi kepada para pedagang perkakas menangkap ikan di sekitar pasar Alabio. Beberapa dari mereka yang saya wawancarai sudah berusia sepuh. Mereka sangat antusias ketika saya mulai menanyakan beberapa pertanyaan. Mereka mengaku menyambung hidup dari hasil berjualan kerajinan ini dari turun-temurun, usaha yang lanjutkan dari generasi ke generasi. Sedangkan untuk hasil kerajinan kebanyakan didatangkan dari daerah Sungai Limas. Hasil kerajinan di Sungai Limas tidak terbatas pada alat penangkap ikan, tetapi juga perkakas rumah tangga seperti wadah, kursi, dan tikar.

Salah satu hal yang paling dirasakan para pengrajin dan pedagang sekarang adalah bahan baku sudah semakin sulit dicari mengakibatkan harga barang menjadi naik.

 "Mencari bambu sekarang sulit sekali rasanya, habitat aslinya tergerus sehingga sebagian harus didatangkan dari Kalimantan Tengah, makanya harganya jadi naik" ucap Haji Bahrun, salah satu narasumber seraya membenarkan pecinya. "Misalnya paikat yang lebih banyak tumbuh di daerah Barito, langsung datangkan dari sana. Selebihnya bambu yang lain ya dari daerah sini, tapi memang jumlahnya sudah tidak banyak".

 "Sekarang pun banyak yang mencari ikan dengan cara yang tidak bertanggung jawab seperti menyetrum yang mengakibatkan matinya benih-benih ikan dan mematikan usaha mencari ikan tradisional". tambahnya lagi

Curhatan ini seakan membukakan mataku betapa hubungan manusia dengan alam sudah tidak sehat. Menangkap ikan dengan setrum justru mematikan benih benih ikan serta biota rawa lainnya. Pihak berwajib tentunya sudah menangani hal ini tapi tetap saja pencari ikan yang bandel akan tetap melakukannya lagi dan lagi. Perlu regulasi yang tidak main-main untuk penyetrum ikan ataupun pengguna racun ikan agar sekiranya jera untuk mengulangi perbuatannya. 


Bersama para pedagang kerajinan di Pasar Alabio 


Setelah selesai mengumpulkan data di daerah Hulu Sungai Utara, ternyata masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum berhasil terjawab. Selanjutnya saya akan menyusuri ke Tamban, daerah asal prasasti diketemukan,yang berjarak sejauh 187 km dari Hulu Sungai Utara. Untuk menyatukan fragmen-fragmen yang terpisah menjadi satu kesatuan cerita utuh, saya harus mencari tahu langsung kesana.

*Tulisan ini pernah dimuat di telusuri.id 

Rabu, 25 Maret 2020

Penggalian Arkeologi Benteng Surosowan



  Menjadi seorang arkeolog mungkin masih menjadi sebuah pekerjaan yang acapkali dipertanyakan orang-orang. "Kerja apaan tuh?" "Keren ih kayak di film-film" "Nyari-nyari fosil ya?" dan masih banyak lagi hal-hal yang menjadi pertanyaan lainnya. Sudah dua kali aku mengikuti penggalian arkeologi, yang pertama di Muara Jambi, sekaligus sebagai Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang menjadi mata kuliah tersendiri di jurusan arkeologi. Kedua saat saya mengikuti magang selama dua minggu bersama BPCB Banten dalam penggalian Benteng Surosowan.

Excavation Begin!



   Tujuan penggalian ini adalah untuk menampakkan sisi utara Benteng Surosowan agar sekiranya sisi tersebut terbebas dari pembangunan apapun. Diperkirakan sisi utara bekas pendopo kerajaan yang terhubung langsung dengan kanal-kanal disekitaranya. Pihak BPCB Banten sendiri bekerja sama dengan prodi arkeologi Universitas Indonesia dengan meminta langsung mahasiswa untuk terjun ke lapangan. Sekitar 40 mahasiswa menjalani magang tersebut dibagi pershift selama tiga bulan. Kami berempat mendapat giliran shift terakhir masuk dari pertengahan September.
 
Suasana saat penggalian
Tugas kami dalam penggalian dibagi kedalam tiga bagian:

1. Menggambar kotak gali
Seorang penggambar bertugas untuk menggambar semua kotak galian pada hari tersebut. Penggambar harus menggambar secara detil tampak awal serta tampak akhir dari penggalian kotak tersebut, termasuk mengukur apa saja penampakan temuan yang ada di kotak tersebut semisal penampakan struktur bata ataupun temuan lepas.

2. Laporan harian
Bertugas untuk melaporkan keadaan pada hari penggalian semisal berapa kotak galian yang dibuat pada hari itu, temuan apa saja yang didapat hari itu, jumlahnya berapa, beserta kesulitan yang dialami. Tugasnya ya mirip-mirip bikin buku harian cuman bahasanya ya harus formal.

3. Bagian Temuan
Bertugas membersihkan, mencatat, dan mengklasifikasi temuan pada hari tersebut. Hal ini nantinya akan memudahkan pihak yang berkepentingan selanjutnya untuk proses inventarisasi temuan.

    Temuan yang sangat menarik pada shift kami ini adalah beberapa anak tangga serta adanya sumber air yang diperkirakan merupakan kanal yang dahulunya langsung melewati sisi utara benteng ini. Yang paling mencengangkan adalah ketika penggalian dilakukan banyak tumpukan sampah yang didapat pada lapisan tanah utara benteng yang artinya lapisan tanah pada daerah tersebut sudah tercampur. Memang pada sepuluh tahun yang lalu sisi utara benteng sempat dijadikan tempat mendirikan warung-warung. Sampah-sampah tersebut menjadi tanda seberapa parah bumi kita memang darurat plastik. Selain itu juga ditemukan tulang-tulang yang diduga berupa sapi.
Suasana penggalian saat siang hari
Salah satu temuan koin berlogo VOC

Salah satu temuan keramik
Tangga di sisi utara benteng, diperkirakan langsung berbatasan dengan kanal


  Kami menyempatkan jalan-jalan setelah usai dengan penggalian pada sore hari, biasanya berkeliling di sekitar Benteng Surosowan, Benteng Speelwijk, Mesjid Agung Banten, Keraton Kaibon, Danau Tasikardi. Peninggalan-peninggalan bersejarah disini masih banyak yang terawat hingga kini dari bangunan hingga makam-makam. Karena dekat dengan laut, banyak juga pantai-pantai di sekitar Surosowan, namun kondisinya memang memprihatinkan, airnya keruh dan banyak sampah dimana-mana. Banten terasa lebih terik dari daerah lain, entah mengapa padahal Bima memegang gelar sebagai kota terpanas di Indonesia. Nampaknya angin yang tidak bertiup ikut andil menjadikan Banten Lama daerah yang panas. 
Danau Tasikardi
Salah satu sudut Benteng Surosowan

Pantai Pasir Putih